NAMA : SINGGIH FITONO
KELAS : 3EA19
NPM
: 17212020
1. SIKAP
Definisi Sikap
Menurut Sarnoff (dalam Sarwono, 2000)
mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi(disposition to
react) secara positif (favorably) atau secara negatif (unfavorably) terhadap
obyek – obyek tertentu. D.Krech dan R.S Crutchfield (dalam Sears, 1999)
berpendapat bahwa sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses
motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai aspek dunia
individu.
Sedangkan La Pierre (dalam Azwar, 2003) memberikan definisi sikap sebagai
suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk
menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah
respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Lebih lanjut Soetarno
(1994) memberikan definisi sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai
kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa
diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan
kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.
Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian sikap,
tetapi berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan
bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak
atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi
obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga
memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap
obyek atau situasi.
Faktor-faktoryang Mempengaruhi Pembentukan Sikap
Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi
sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap
berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah:
1. Pengalaman pribadi. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap,
pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan
lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor
emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman
akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
2. Kebudayaan.
B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk
kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain
daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement
(penguatan, ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk
sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain.
3. Orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya, individu bersikap konformis atau
searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini
antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari
konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
4. Media massa.
Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio,
mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya
informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa
informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan
menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
5. Institusi Pendidikan dan Agama. Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan
agama mempunyai pengaruh kuat dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya
meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman
akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh
dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
6. Faktor emosi dalam diri. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi
lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap
merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam
penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap
demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang
akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan
lama. contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah
prasangka.
2. MOTIVASI
1. Motivasi Sebagai Pengarah Tuju & Penggerak
Tindakan
Perkataan MOTIVASI adalah berasal daripada perkataan
Bahasa Inggeris - "MOTIVATION". Perkataan asalnya ialah
"MOTIVE" yang juga telah dipinjam oleh Bahasa Melayu / Bahasa
Malaysia kepada MOTIF, yakni bermaksud TUJUAN. Di dalam surat khabar, kerap
pemberita menulis ayat "motif pembunuhan". Perkataan motif di sini
boleh kita fahami sebagai sebab atau tujuan yang mendorong sesuatu pembunuhan
itu dilakukan.
Jadi, ringkasnya, oleh kerana perkataan motivasi
adalah bermaksud sebab, tujuan atau pendorong, maka tujuan seseorang itulah
sebenarnya yang menjadi penggerak utama baginya berusaha keras mencapai atau
mendapat apa juga yang diinginkannya sama ada secara negatif atau positif. Oleh
itu, kita boleh definisikan bahawa:
"Motivasi adalah sesuatu yang menggerak dan
mengarah tuju seseorang dalam tindakan-tindakannya sama ada secara negatif atau
positif."
2. Motivasi Sebagai Pendorong
Tujuan atau motif adalah sama fungsinya dengan
matlamat, wawasan, aspirasi, hasrat atau cita-cita. Jadi, wawasan, cita-cita,
impian, keinginan atau keperluan seseorang itu malah bagi sesebuah negara
merupakan pendorong utama yang menggerakkan usaha bersungguh-sungguh untuk
mencapai apa yang dihajatkan.Lebih penting sesuatu yang ingin dicapai,
dimiliki, diselesaikan atau ditujui, lebih serius dan lebih kuatlah usaha
seseorang, sesebuah keluarga, organisasi, masyarakat atau negara untuk mencapai
apa juga matlamat yang telah ditetapkan. Jadi, dengan matlamat atau hasrat yang
lebih penting atau besar, lebih kuatlah pula dorongan atau motivasi seseorang
itu untuk berusaha bagi mencapai matlamatnya. Oleh itu, bolehlah kita membuat
kesimpulan di sini bahawa:
"Motivasi adalah suatu bentuk dorongan minda
dan hati yang menjadi penggerak utama seseorang, sesebuah keluarga atau
organisasi untuk mencapai apa juga yang diinginkan."
3. Motivasi Sebagai Darjah Kesungguhan
Tahap kepentingan sesuatu yang seseorang ingin
capai, memberi kesan terhadap tahap kesungguhannya berusaha. Sungguhpun masa
untuk mencapainya agak lama, tetapi jika apa yang dihasratkan itu amat penting,
ia akan terus tetap mempunyai keinginan atau kesungguhan untuk berusaha sehinggalah
matlamatnya tercapai. Oleh itu, bolehlah
juga kita membuat kesimpulan di sini bahawa:
"Motivasi adalah darjah atau tahap kesungguhan
dan tempoh keterusan seseorang, berusaha untuk mencapai tujuan atau
matlamatnya."
4. Motivasi Sebagai Stimulator
Seseorang lelaki dan wanita yang sedang saling amat cinta
mencintai sehingga telah berjanji untuk hidup bersama, akan berusaha dengan
penuh kesungguhan untuk menjadi suami isteri walaupun menghadapi pelbagai
halangan berbuat demikian. Itulah sebab makanya, ramai pasangan yang kita
dengar pergi bernikah ke luar negara apabila ada halangan (undang-undang) yang
tidak membolehkan mereka mendapat sijil perkahwinan di dalam negara. Seperti
kata pepatah Melayu "Nak, seribu daya. Tak nak, seribu dalih.". Di
sini dapatlah kita simpulkan bahawa:
"Motivasi adalah stimulasi atau semangat akibat
rangsangan atau keghairahan terhadap sesuatu yang benar-benar diingini."
5. Motivasi Sebagai Pemangkin Keberanian
Apabila kita betul-betul dan benar-benar inginkan
sesuatu, ketakutan atau kemalasan menjadi perkara kedua - mencapai matlamat
akan menjadi perkara utama; maka, keberanian, kerajinan dan ketekunan akan
timbul.
3. KONSEP DIRI
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan
dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu
dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk
persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan
lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan
serta keinginannya. Sedangkan menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986)
menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara
utuh, baik fisikal, emosional intelektual , sosial dan spiritual.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari
teori perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau yang
terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri), untuk lebih jelasnya
mari kita baca lebih lanjut tentang “Faktor yang mempengaruhi Konsep Diri”
berikut ini:
1. Teori perkembangan
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian
berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan
dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang
terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan
melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman
budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai
oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi
potensi yang nyata.
2. Significant Other (orang yang terpenting atau
yang terdekat)
Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan
pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain
yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang
lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja
dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat
atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi.
3. Self Perception (persepsi diri sendiri)
Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan
penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi
tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang
positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku
individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih
efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan
interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan
konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang
terganggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar